Beranda » Travel Update » Kabupaten Bangli Memiliki Salah 1 Danau Terbesar Di Bali

Bangli

Kabupaten Bangli adalah sebuah kabupaten (kabupaten) di Bali, Indonesia. Ini memiliki luas 520,81 km2 dan populasi 197.210 (2004). Kursi kabupatennya adalah Bangli. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Buleleng di utara, Klungkung dan Karangasem di timur, serta Kabupaten Klungkung, Gianyar di Selatan, Badung dan Gianyar di barat.

Bangli terbagi menjadi 4 kecamatan, 4 dusun dan 56 desa. Kintamani yang merupakan salah satu destinasi terkenal di Bali merupakan salah satu sundistrik di Bangli. Di antara delapan kabupaten dan satu kota di Bali, Bangli merupakan satu-satunya kabupaten yang tidak memiliki garis pantai. Namun, Bangli memiliki danau terbesar di Bali, Danau Batur, yang berfungsi sebagai sumber air bagi sebagian besar lahan pertanian di Bali selatan.

Mengenai peran penting danau, sistem subak secara simbolis menganggap Pura Ulun Danu Batur sebagai orientasi pemujaan kepada Dewa Wisnu, pelindung alam semesta. Terletak di pegunungan tengah dan dataran tinggi, Bangli memiliki cuaca yang sejuk dan menjadi lebih dingin di malam hari, terutama di Kintamani.

Prioritas Pembangunan Kabupaten Bangli ditempatkan pada kawasan ekonomi dengan penekanan pada Sektor Pertanian dalam arti luas, Pariwisata dan Industri kerajinan kecil khususnya penunjang pariwisata.

Terletak di ketinggian 400 m di atas permukaan laut, pegunungan di Bangli utara adalah penghasil bambu terbesar di Bali. Sebagian besar bangunan tradisional di Bali menggunakan bambu dari Bangli sebagai bahan atap.

Pada bangunan tradisional di pegunungan Bangli, bambu digunakan sebagai penutup atap. Kerajinan/Ulian Bambu yang merupakan industri kecil di Kabupaten Bangli merupakan komoditas unggulan dengan bahan baku lokal yang masih cukup tersedia.

Karena sejarah pemerintahan di Bali pada masa sistem monarki, Bangli pernah mengambil bagian penting antara akhir abad ke-10 dan awal abad ke-11, atau pada masa pemerintahan Raja Udayana dari dinasti Warmadewa.

Peninggalan arkeologi yang tersimpan di Pura Bukit Panulisan di Kintamani utara dapat menceritakan kisah sejarah Bali. Gaya hidup dan dialek masyarakat yang tinggal di pegunungan Kintamani menunjukkan bahwa bukan hanya prasasti yang dapat membuktikan peran penting Bangli di masa lalu, tetapi juga bukti hidup setelah penerapan gaya hidup tradisional yang baik.

Selain cuacanya yang sejuk dan pemandangan satwa liar yang menakjubkan di sekitar Danau Batur, berbagai peninggalan sejarah yang terpelihara dengan baik di kabupaten ini juga menjadi penunjang potensi wisata Bangli. Berbagai fasilitas akomodasi dan restoran telah dibangun.

Ada destinasi wisata di Bangli, selain Kintamani, ada ukit Jati, Taman Bali Raja, Air Terjun Kuning, Pura Kehen, Eco Tourism, Desa Adat Penglipuran, Tugu Pahlawan Penglipuran, Hutan Bambu, Desa Adat Pengotan, Resor Wisata Penelokan, Museum Vulcano Gunung Batur, Toyo Bungkah, Desa Kedisan, Desa Terunyan, Pura Pancering Jagat, Pura Batur, Pura Pucak Penulisan, Agrowisata Catur Kintamani, Pura Dalem Balingkang, Pantunan, Panorama Pura Puncaksari, Bukit Demulih dan masih banyak lagi.

Sejarah Kabupaten Bangli

Kabupaten Bangli lahir dari kekejaman, inses, pengkhianatan, dan pembunuhan. Di Bali, di mana legenda dan sejarah begitu terjalin, sejarah Bangli terbaca seperti cerita dari salah satu dongeng Panji. Pada abad ke-18, raja kejam Dewa Rai dari Taman menikahi sepupunya, Dewa Ayu dari keluarga Bangli Denbancingah, dan segera mulai merencanakan untuk menggulingkan pamannya, penguasa Nyalian. Dewa Rai mengadopsi Dewa Gede Tangkeban, putra penguasa Nyalian, tetapi putra tersebut jatuh cinta dan berselingkuh dengan istri ayah angkatnya, sang ratu.

Dia membujuk kekasihnya untuk mengubah rakyat Dewa Rai yang tidak puas melawan raja mereka yang dihina.

Setelah Dewa Rai dibunuh di pelataran Puri Agung Bangli, Dewa Gede Tangkeban menikah dengan ibu tirinya dan menjadi raja Bangli. Karena pernikahan ini tidak disetujui oleh adat agama saat itu, tujuh generasi penguasa dikutuk dengan nasib buruk.

Pada abad ke-18 dan ke-19, saat perdagangan maritim sangat penting, hanya kerajaan-kerajaan dengan pelabuhan yang kuat secara ekonomi dan politik. Untuk berdagang, Bangli terpaksa mengangkut barang-barangnya melalui wilayah lain, membayar upeti yang besar kepada penguasa mereka. Nasib Bangli berubah pada tahun 1849 ketika rajanya Dewa Gede Tangkeban II diangkat oleh Belanda untuk memerintah Kabupaten Buleleng di bagian utara.

Daerah yang luas ini dikuasai Belanda setelah Raja Buleleng Gusti Ketut Jilantik melakukan puputan. Konfederasi ini sangat menguntungkan Bangli—saat itu dapat memperoleh akses ke laut. Buleleng juga bisa diuntungkan karena bisa mengairi sawahnya dengan air Bangli.

Tapi serikat itu berumur pendek. Pada tahun 1854, Buleleng memberontak melawan Bangli. Tidak penting; pada tahun 1882, seluruh Bali utara berada di bawah pemerintahan kolonial Belanda secara langsung.

Bangli pertama kali dikenal

Dunia Barat ketika seorang dokter Jerman, Gregor Krause (1883-1959), diangkat ke rumah sakit Belanda di sini dari tahun 1912 hingga 1914. Sebagai seorang fotografer dan etnolog amatir, Krause mengambil lebih dari 4.000 foto selama masa jabatannya. Empat ratus di antaranya, bersama dengan laporannya tentang kehidupan budaya Bali, diterbitkan di Jerman pada tahun 1922 dan didistribusikan ke seluruh dunia.

Pengaruh buku tersebut di Eropa, yang baru saja muncul dari perang empat tahun dan masih berjuang melawan kemiskinan, sangat berpengaruh. Sebagian besar foto diambil di Bangli dan merupakan catatan sejarah yang tak ternilai pada masa itu—puri, kehidupan bangsawan, raja dan putri dalam pakaian upacara, penari topeng kerajaan.

Tokoh sastra terkenal lainnya, Muriel Pearson kelahiran Skotlandia, dengan nama pena Ketut Tantri, menulis Revolt in Paradise, sebuah kisah menarik tentang hidupnya di Bali dan Jawa dari tahun 1932 hingga 1947. Terinspirasi oleh film Hollywood awal The Last Paradise, dia datang ke Bali, menetap pertama di Denpasar, Segera tumbuh gelisah, dia berkendara ke pedalaman untuk mencari Bali yang sebenarnya.

Mobilnya kehabisan bensin di depan Puri Denpasar di Bangli. Raja saat itu mengundangnya ke istana dan akhirnya dia menjadi anak angkatnya. Dia memberinya nama Ketut Tantri, ketut berarti anak keempat. Dia memakai pakaian adat dan atas usul raja mengecat rambut merahnya menjadi hitam—hanya leyak yang berambut merah di Bali.

Dukungan 24/7

+6283115192999 Panggilan atau pesan teks kapan saja melalui Whatsapp, Viber, Line atau WeChat. Kami selalu di sini, dan kami akan dengan senang hati membantu. Email : admin@arvitour.com

# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.