Beranda » Travel Update » Kabupaten Gianyar Terkenal Sebagai Salah 1 Pusat Seni

Kabupaten Gianyar

Kabupaten Gianyar adalah sebuah kabupaten (kabupaten) di provinsi Indonesia dan pulau Bali, Indonesia. Memiliki luas wilayah 368 km2 dan jumlah penduduk 470.380 jiwa, menjadikannya kabupaten terpadat kedua di Bali (setelah Badung). Kursi kabupatennya adalah Gianyar. Survei catatan sipil April 2011 mencatat 480.447 orang, di mana 469.929 di antaranya diklasifikasikan sebagai Hindu.

Kabupaten Gianyar juga dikenal sebagai pusat seni di pulau Bali. Selain itu, Kabupaten Gianyar juga memiliki banyak tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi bagi yang sedang berlibur di pulau Bali, dan terletak kurang lebih 33,2 km atau 1 jam dari kota Denpasar.

Destinasi wisata di kabupaten Gianyar yang terkenal di dunia adalah Ubud yang merupakan salah satu destinasi wisata yang paling banyak dikunjungi di pulau Bali. Gianyar memiliki banyak seniman seperti pelukis, penari, pematung, dll, sehingga orang menyebut Kabupaten Gianyar adalah pusat seni di Bali. Salah satu tarian Bali yang terkenal di seluruh dunia adalah Tari Kecak yang diyakini lahir dan pertama kali ditarikan di desa Bona, Blahbatuh, Gianyar pada tahun 1930-an oleh seorang seniman I Wayan Limbak yang bekerjasama dan didukung oleh seorang seniman. dari Jerman bernama Walter Spies.

Kabupaten Gianyar memiliki banyak daerah yang menjadi sentra seni & kerajinan, seperti desa Batubulan dan Singapadu yang terkenal dengan pusat seni ukir batu pasir, desa Celuk yang terkenal dengan kerajinan pembuatan perhiasan emas dan perak, Batuan dan Ubud terkenal dengan gaya seni lukisnya, desa Mas terkenal sebagai pusat kerajinan ukiran kayu, topeng, dan furnitur. Desa Bona terkenal dengan kerajinan anyaman dari daun lontar (ental), dan desa Belega yang dikenal sebagai sentra kerajinan bambu (kursi & meja bambu).

Zaman Gianyar . Kuno

Berdasarkan bukti-bukti arkeologis di Gianyar kini dapat memberikan jalan dan pengetahuan bagi kita untuk mengetahui tentang masa lalu di Gianyar sekitar 2000 tahun yang lalu dengan ditemukannya situs arkeologi dan alat-alat (artefak) seperti batu, logam, Nekara perunggu (tunggal cor perunggu ketel gendang) yang dikenal sebagai Bulan Pejeng, relief yang menggambarkan kehidupan manusia, dan candi serta gua yang ditemukan di tebing sungai Pakerisan (Tukad Pakerisan) Gianyar, Bali.

Setelah ditemukannya bukti-bukti tertulis berupa prasasti di atas batu atau logam, maka dapat diketahui lokasi pusat kerajaan Dinasti Warmadewa di keraton Singamandawa, Bedahulu, Gianyar Bali.

Setelah ekspedisi Gajah Mada (pemimpin militer yang kuat dan mahapatih atau perdana menteri Kerajaan Majapahit) yang telah menguasai pulau Bali, bekas pusat markas pasukan mendirikan sebuah istana kerajaan yang disebut Keraton Samprangan sebagai pusat pemerintahan. dipegang oleh lima raja Bali, yaitu:

Raja Adipati Ida Dalem Kresna Kepakisan (1350-1380 M), sebagai cikal bakal Dinasti Kresna Kepakisan, maka Keraton Samprangan mampu bertahan kurang lebih tiga abad.

  • Raja Ida Dalem Ketut Ngulesir (1380-1460 M)
  • Raja Ida Dalem Waturenggong (1460-1550 M)
  • Raja Ida Dalem Sagening (1580-1625 M)
  • Raja Ida Dalem Dimade (1625-1651 M)

Dua raja terakhir Bali, Ida Dalem Sagening dan Ida Dalem Dimade telah melahirkan cikal bakal penguasa di beberapa daerah. Ida Dewa Manggis Kuning (1600-an) penguasa di Desa Beng, Gianyar merupakan cikal bakal Dinasti Manggis yang muncul setelah generasi kedua membangun kerajaan Payangan, Gianyar (1735-1843).

Seorang putra Raja Klungkung (Ida Dewa Agung Jambe) bernama Ida Dewa Agung Anom muncul sebagai cikal bakal dinasti raja-raja di Sukawati, Gianyar (1711-1771 M), termasuk Peliatan dan Ubud, Gianyar Bali.

Pada periode yang sama, masa Kerajaan Gelgel, juga terdapat penguasa lokal lainnya yaitu I Gusti Ngurah Jelantik yang memerintah di wilayah Blahbatuh, Gianyar dan kemudian I Gusti Agung Maruti yang memerintah wilayah Keramas, Gianyar, keduanya adalah keturunan. dari Arya Kepakisan.

Sejarah Kabupaten Gianyar

Lebih dari seperempat abad yang lalu, tepatnya tahun 1770 M, kira-kira 2 km di sebelah selatan desa Bengkel (sekarang dikenal sebagai desa Beng) dibangun sebuah istana baru yang disebut Grya Anyar.

Berdirinya keraton Griya Anyar atau yang kemudian menjadi Puri Agung Gianyar yang diresmikan dengan upacara pada tanggal 19 April 1771, menandai lahirnya kerajaan baru yang diperintah oleh Ida Anak Agung I Dewa Manggis Api atau disebut juga I Dewa Manggis. Sakti.

Setelah dinobatkan sebagai raja, ia bergelar I Dewa Manggis IV, sebagai raja pertama Kerajaan Gianyar (Raja I Gianyar). Puri Agung Gianyar sebagai istana raja kemudian menjadi pusat ibukota kerajaan.

Setelah I Dewa Manggis Sakti mangkat sebagai pendiri kerajaan Gianyar yang berdaulat penuh, kemudian pewaris tahta diserahkan kepada putra mahkota (Ida I Dewa Manggis Di Madia) yang bergelar I Dewa Manggis V

sebagai Raja Gianyar II.

Dewa Manggis V memerintah pada tahun 1814-1839 M. Setelah wafat, kemudian digantikan oleh putra mahkota (Ida I Dewa Manggis Di Rangki) yang bergelar I Dewa Manggis VI sebagai Raja Gianyar III, yang memerintah dari tahun 1839 sampai 1847 M.

Pewaris takhta berikutnya sebagai raja Gianyar adalah Ida I Dewa Manggis Mantuk Di Satria (I Dewa Manggis VII). Ia memerintah sebagai raja Gianyar IV cukup lama selama 38 tahun dari tahun 1847 sampai 1885 M, sebelum ditipu dan ditawan oleh Ida I Dewa Agung (Raja Klungkung).

Setelah Ida I Dewa Manggis VII diasingkan pada tahun 1885, tahta di keraton Gianyar lumpuh hingga wafatnya pada tahun 1892 M dalam pengasingan di Satria, Klungkung. Kemudian wilayah Kerajaan Kerajaan Gianyar dikuasai oleh kerajaan Bangli dan Klungkung.

Pada bulan Januari 1893, dua orang putra Ida I Dewa Manggis Mantuk Di Satria yang bernama Ida I Dewa Pahang dan Ida I Dewa Gde Raka beserta keluarganya berhasil melarikan diri dari pengasingan dan kembali ke Gianyar.

Ida I Dewa Pahang sebagai Raja Gianyar V berhasil lolos dari tahanan pasukan Kerajaan Klungkung dan Bangli. Selama tiga tahun (1893-1896) ia berjuang dan berhasil membebaskan Kerajaan Gianyar dari cengkeraman dan kekuasaan kerajaan lain, sehingga kerajaan Gianyar berhasil merebut kembali kedaulatannya.

Setelah Ida I Dewa Pahang meninggal, maka tahta dilanjutkan oleh adiknya yang bernama Ida I Dewa Gde Raka. Ia dinobatkan sebagai Raja Gianyar VI dan memerintah dari tahun 1896-1912.

Permusuhan dan konflik tanpa henti dengan kerajaan Badung, Mengwi, Bangli dan Klungkung menyebabkan situasi kehidupan di kerajaan Gianyar menjadi kacau. Menyoroti penderitaan rakyatnya dan untuk mencari perlindungan demi menyelamatkan kerajaan dari kehancuran karena terancam dan diserang oleh empat kerajaan tetangga dari berbagai arah, maka Ida I Dewa Gde Raka akhirnya menyerahkan kedaulatan kerajaan Gianyar kepada kekuasaan dari Hindia Belanda.

Selanjutnya Ida I Dewa Gde Raka (Ida I Dewa Manggis VIII), Raja Gianyar VI, sebagai stedehouder pemerintahan Hindia Belanda di Gianyar. Kemudian pada 23 Mei 1912, ia mengundurkan diri secara sukarela. Dengan Surat Keputusan Gubernur Jenderal tanggal 11 Januari 1913, Ida I Dewa Gde Raka diberhentikan dengan hormat sebagai stedehouder di Kerajaan Gianyar Bali.

Ida I Dewa Ngurah Agung yang merupakan putra dari Ida I Dewa Manggis VIII kemudian menggantikan ayahnya di kerajaan Gianyar dan diangkat sebagai Bupati Kepala Pemerintahan di Gianyar dan diberi gelar “Anak Agoeng”. Selanjutnya sejak 1 Juli 1938, daerah-daerah di Bali ditetapkan sebagai daerah otonom (Swapraja) yang masing-masing dipimpin oleh Zelfbestuurders. Ida Anak Agung Ngurah Agung sebagai Raja (zelfbestuurders) Gianyar, bersama raja-raja daerah otonom lainnya di Bali dilantik dengan hormat di Pura Besakih pada tanggal 29 Juni 1938.

Pada masa pendudukan Jepang di Gianyar yang dimulai pada tanggal 23 Februari 1942, kerajaan ini masih dipimpin oleh Raja Gianyar, Ida Anak Agung Ngurah Agung. Kemudian pada tanggal 23 Agustus 1943, putranya yang bernama Ida Anak Agung Gede Agung dilantik sebagai raja (Syutjo) Gianyar menggantikan ayahnya dan memerintah sampai akhir pendudukan Jepang pada tahun 1945.

Memasuki masa kemerdekaan dan masa kediaman tentara sekutu dan NICA (Netherlands-Indies Civil Administration), kerajaan Gianyar di bawah pimpinan Raja Ida Anak Agung Gede Agung tetap sebagai daerah otonom/bagian dari pemerintahan Bali. Bali sendiri menjadi bagian dari administrasi Negara Indonesia Timur (NIT), sedangkan NIT adalah bagian dari Republik Indonesia Serikat (RIS).

Dengan terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada tanggal 17 Agustus 1950, pemerintah melakukan perubahan sistem. Bekas wilayah kerajaan di Bali yang berjumlah 8 kerajaan dijadikan sebagai bagian daerah/daerah otonom.

Pemerintah daerah otonom terdiri dari Ketua Dewan Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (yang memiliki hak parlemen penuh). Dewan Perwakilan Daerah yang telah dilantik, selanjutnya bertugas memilih Ketua Dewan Pemerintah Daerah Otonom Gianyar, kemudian terpilih Ida Anak Agung Gde Oka untuk periode 1953-1958.

Setelah dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah Otonom Tingkat II, dimana kekuasaan eksekutif dijalankan oleh seorang Kepala Daerah Otonom (Swatantra), kemudian Ida Anak Agung Gde Oka terpilih kembali sebagai Kepala Daerah. Daerah Tingkat II Gianyar dengan masa bakti 1958-1960.

Menyusul dikeluarkannya Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959, maka ditetapkan dengan penetapan No.6 Tahun 1959 bahwa pemerintah daerah terdiri dari Pimpinan Daerah dan Dewan Perwakilan Daerah. Kepala daerah adalah pejabat Negara sebagai wakil Pemerintah Pusat di daerah (Bupati, Bahasa Indonesia: Bupati).

Selama pelaksanaan Presidentia

l Surat Keputusan No. 6/1959 di Gianyar (periode 1960-1969) telah tercatat empat kali berturut-turut Kepala Daerah Otonom Tingkat II dan yang juga disebut Bupati (Bupati). Masa bakti 1960-1963, Kepala Daerah Otonom Tingkat II Gianyar dijabat oleh Tjokorda Ngurah, menggantikan Ida Anak Agung Gde Oka.

Selanjutnya masa bakti 1963-1964 dipimpin oleh Drh. Tjokorda Anom Pudak sebagai Bupati Gianyar. Periode berikutnya 1964-1965 dipegang oleh I Made Suyoga. BA sebagai Bupati Gianyar dengan masa bakti 1965-1969.

Memasuki masa pemerintahan Orde Baru, dengan dikeluarkannya UU No.18 Tahun 1965, maka sebutan Daerah Otonom Tingkat II Gianyar diubah menjadi Kabupaten Gianyar sebagai Daerah Tingkat II. Kepala daerah adalah seorang Bupati. UU No.18 Tahun 1965 kemudian disempurnakan dengan UU No.5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah.

Dukungan 24/7

+6283115192999 Panggilan atau pesan teks kapan saja melalui Whatsapp, Viber, Line atau WeChat. Kami selalu di sini, dan kami akan dengan senang hati membantu. admin@arvitour.com

# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.