Beranda » Tempat Wisata Bali » Desa Tenganan Salah 1 Desa Tertua Yang Unik

Desa Tenganan Bali Merupakan Desa Adat Bali Tertua

Desa Bali Tenganan adalah salah satu Desa Adat Bali tertua yang terletak di Kabupaten Karangasem, bagian timur Bali. Desa ini banyak dirujuk oleh ilmu sastra budaya Tenganan Pegringsingan yang sangat terkenal di pulau ini. Ini memiliki pola kehidupan masyarakat lokal yang sangat unik yang merupakan salah satu contoh budaya Desa Bali Aga (Prasejarah Hindu) dan berbeda dengan pedesaan lain di dataran Bali. Saat ini desa ini telah ditetapkan sebagai tempat tujuan wisata yang dapat menyajikan hal-hal yang menarik dan unik yang mampu menambah variasi objek dan daya tarik bagi wisatawan untuk datang.

Sejarah Desa Tenganan :


Ada beberapa versi cerita yang menceritakan sejarah desa Tenganan.

  • Ada yang mengatakan bahwa kata Tenganan berasal dari kata “tengah” atau “ngatengahang” yang artinya, “pindah ke daerah dalam”. Turunan kata ini ada kaitannya dengan perpindahan penduduk desa dari tepi pantai ke pedesaan, dimana posisi desa ini berada di tengah perbukitan, yaitu bukit barat (Bukit Kauh) dan bukit timur (Bukit Kangin).
  • Versi lain mengungkapkan bahwa masyarakat Desa Tenganan berasal dari desa Peneges yang terletak di Gianyar, tepatnya di dekat Bedahulu. Berdasarkan cerita rakyat, pada suatu ketika Raja Bedahulu kehilangan salah satu kudanya. Orang-orang mencarinya ke arah timur dan kuda itu akhirnya ditemukan tewas oleh Ki Patih Tunjung Biru, tangan kanan Raja. Atas kesetiaannya, Raja akhirnya memberikan wewenang kepada Ki Patih Tunjung Biru untuk memerintah negeri itu sejauh bau bangkai kuda itu tercium. Ki Patih adalah orang yang cerdas, maka dia memotong bangkai itu menjadi beberapa bagian dan menyebarkannya sejauh yang dia bisa. Dengan demikian ia menerima area yang cukup luas.

Desa Tenganan menghadirkan budaya tradisional yang unik

  • Spesifikasi objek wisata di Desa Tenganan terdiri dari :
  • Pola pedesaan pedesaan yang bersifat Countrified bersifat Linier
  • Struktur orientasi masyarakat bilateral pada kolektif senioritas
  • Sistem Ritual Khusus dalam frekuensi tinggi dengan melayani solidaritas agama, solidaritas artistik dan mekanik sosial
    Tradisi Mekare-Kare pada setiap bulan Juni merupakan tradisi iman sebagai cemara dalam konteks ritual, nilai agama, semangat perjuangan dan ujian tunda fisik yang diiringi dengan gamelan tradisional Selonding.
  • Seni Kerajinan Tenun ikat kain yang terkenal dengan sebutan Ikat Pangringsingan ini didesain dan ditata dengan warna yang khas.


Desa Tenganan Secara Geografis


Desa Tenganan secara geografis terletak di antara perbukitan di bagian barat dan timur desa ini. Desa ini terletak di Kecamatan Manggis dan Kabupaten Karangasem atau sekitar 1 jam perjalanan dari Kota Denpasar. Ini adalah desa kecil yang terdiri dari tiga Banjar (kelompok masyarakat lokal) yaitu Banjar Kauh, Banjar Tengah dan Banjar Pande. Wilayah desa ini terdiri dari tiga kompleks yaitu kompleks pemukiman, perkebunan dan persawahan.

Sejarah desa Tenganan diungkapkan dalam beberapa versi. Versi pertama menyebutkan bahwa penduduk desa Tenganan berasal dari Desa Paneges, sebuah desa yang letaknya berdekatan dengan Desa Bedahulu yang terletak di Kabupaten Gianyar. Versi kedua mengungkapkan bahwa kata Tenganan dikenal dalam salah satu prasasti Bali yang ditulis dengan kata Tranganan. Versi ketiga diungkapkan bahwa warga Desa Tenganan berdoa ke Pura Bukit Lempuyang.

Kata Tenganan berasal dari akar kata Tengah yang dapat berarti mengarah ke tengah Pegringsingan, jenis kain tenun ikat yang biasanya diproduksi oleh penduduk desa Tenganan. Struktur kependudukan di desa Tenganan dibangun secara linier terdiri dari enam sinar.

Masing-masing ray terdiri dari beberapa halaman luas, bentuk bangunan tempat masyarakat setempat menggunakannya untuk menyajikan kerajinan tangan bagi wisatawan. Semua tradisi keberadaan manusia selaras dengan Tuhan, manusia dan lingkungan sesuai dengan konsep Tri Hita Karana.

Destinasi Wisata Desa Tenganan tetap menarik selama ini, baik sebagai objek wisata budaya, wisata alam maupun wisata pertanian.

Pengunjung akan merasa nyaman saat mengunjungi kawasan ini, karena beberapa fasilitas tersedia di sini, seperti warung makan, toilet yang bagus, toko seni dan area parkir yang cukup luas. Jika ingin makan di restoran atau bermalam di dekat kawasan ini, kita bisa menuju Candidasa yang hanya berjarak 3 km dari desa ini.

Untuk sampai ke Tenganan, naik lift dari jalan utama dengan ojek; dan berjalan-jalan santai kembali ke jalan utama sambil merenungkan seluk-beluk budaya Bali Aga. Tidak ada biaya masuk ke Tenganan tetapi sumbangan kecil diminta saat kami memasuki Desa Tenganan.

# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.