Beranda » Tempat Wisata Bali » Pura Jagatnatha Memilik 10 Gerbang yang Mempesona


Pura Jagatnatha Bali Adalah Candi Hindu Indah Di Pusat Kota

Pura Jagat Natha Bali adalah pura Hindu yang indah terletak di pusat Kota Denpasar yang merupakan pura Hindu terbesar di ibu kota Provinsi Bali. Pura Jagat natha yang dibangun di sebelah timur taman alun-alun Puputan Badung adalah tempat pemujaan umum untuk Ida Sang Hyang Widhi Wasa (panggilan dewa Hindu). Berlokasi strategis di Jalan Mayor Wisnu yang sangat mudah dijangkau dari segala arah serta candi yang terkenal dan ditunjuk sebagai tujuan wisata di Kota Denpasar. Pura Jagat natha telah banyak dikunjungi oleh umat Hindu terutama pada musim liburan Hindu termasuk bulan purnama.

Filosofi Pura Jagat Natha

Nama Pura Jagat Natha diambil dari nama khusus yang tidak mirip dengan pura-pura terkenal lainnya di Bali yang diambil dari lokasi dimana pura tersebut berada seperti Pura Besakih, Pura Ulundanu Batur, Pura Lempuyang Luhur, Pura Luhur Andakasa, Pura Puncak Mangu, dll. Di antara Pura Hindu terkenal lainnya di Bali, upacara pertama yang diadakan di Pura Jagat natha juga mirip dengan pura lainnya dengan melakukan prosesi upacara kecil. Keunikan pura ini adalah tidak memiliki Pengemong (kelompok orang/organisasi/tim yang mendukung, menjaga, memelihara pura) seperti pura-pura lainnya di Bali, tetapi hanya memiliki para sukarelawan kecil dan orang-orang yang beribadah di pura ini.

Pada mulanya pura ini dikelola oleh panitia pembangunan pura Pura Jagat natha dan selanjutnya dikelola oleh Panitia Hari Raya Hindu yang secara kelembagaan ditetapkan dengan SK Pemerintah Kabupaten Badung. Namun saat ini Pura Jagat natha telah diambil alih oleh Pemerintah Kota Denpasar.

Jika dilihat dari pemaparan Konsep Pura Jagat natha, maka dapat disimpulkan unsur-unsur dan struktur Pura Jagat Natha yang berada di area pura utama (Utama Mandala) adalah sebagai berikut:

Padmasana

Padmasana adalah bangunan utama candi sebagai simbol tempat duduk Sang Hyang Widhi (dewa). Kata Padmasana berasal dari bahasa Sansekerta, Jawa Kuno dan secara lateral berarti singgasana atau tempat duduk dewa berbentuk teratai. Dalam konsep Arcanam dan Citra-Lekha, bunga teratai merupakan tumbuhan rahasia sebagai tempat duduk atau singgasana dewa atau penguasa dalam berbagai bentuk yang terkenal dengan sebutan Istadewata dewa dan kebaikan.
Kolam Ikan di sekitar Padmasana


Jika kita melihat struktur fisik pura-pura kuno di Bali, biasanya dipasang Titi Ugal-agil (jembatan yang terbuat dari batang kayu) dengan kolam di bawahnya sebagai pintu masuk. Silakan lihat dan bandingkan Titi Ugal-Agil di Pura Agung Taro yang terletak di Desa Taro dan Pura Taman Sari yang terletak di kota Klungkung. Fungsi Titi Ugal-Agil adalah untuk menyucikan setiap umat Hindu yang memasuki area candi induk.


Kanopi Kembar

Tajuk kembar yang dipasang di depan Padmasana dan bangunan kanopi di pura-pura di Pulau Bali umumnya berfungsi untuk meletakkan perwujudan dewa atau Gagaluh pada prosesi upacara (Pawedalan). Namun, Pawedalan di Pura Jagatnatha berfungsi sebagai altar untuk meletakkan sesaji terutama pada prosesi persembahyangan Hari Raya Hindu Bali seperti bulan purnama, bulan gelap, Hari Raya Galungan dan Kuningan, Hari Saraswati, Hari Siwaratri dan hari-hari penting lainnya.

Altar Sang Hyang Anantaboga

Altar ini terletak di bagian utara kompleks candi induk.

Sumur untuk mengambil Air Suci atau Tirtha

Sumur terletak di bagian utara kompleks candi utama.

Bale Paselang

Jika tidak ada upacara besar khusus yang diadakan di pura ini, Bale Paselang biasanya digunakan untuk menyimpan sesajen dan terkadang digunakan sebagai tempat untuk Mesanti (membaca dan menyanyikan kitab suci yang terkenal dengan sebutan Geguritan atau Kekawin). Jika umat Hindu banyak melakukan persembahyangan, maka Bale Paselang ini digunakan sebagai tempat peristirahatan.

Perantenan/Dapur

Merupakan sebuah bangunan yang memiliki multi fungsi dimana konteks kegiatan dapur, tidak memiliki fungsi pada upacara tetapi juga sesuai dengan kegiatan keagamaan lainnya di candi ini.

Gudang/Toko

Toko ini berfungsi untuk menyimpan gamelan dan barang-barang milik candi lainnya.

Bale Gong

Bale Gong merupakan bangunan untuk menabuh gamelan pada saat prosesi upacara dan terkadang juga digunakan sebagai tempat peristirahatan bagi umat Hindu.

Apit Surang / Gerbang Masuk

Di bagian barat kompleks candi induk dari utara ke selatan telah dibangun beberapa bangunan sebagai berikut:

  • Bale Kulkul adalah bangunan menara yang indah untuk menggantung lonceng kayu
  • Apit Surang Kiwe adalah gerbang masuk kiri
  • Gelung Kuri adalah gerbang masuk pusat
  • Apit Surang Tengen adalah pintu masuk sebelah kanan
  • Dakam Karang Althar (Tugu)
  • Bale Bengong adalah kanopi istirahat
  • Bale Pawedan adalah kanopi untuk Pendeta Hindu membaca mantra

# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.