Beranda » Travel Info » Hari Raya Galungan Bali

Hari Raya Galungan Bali

Adalah Upacara Kudus Untuk Membedakan Kekuatan Hidup Yang Berasal Dari Adharma, Hari Raya Galungan Hindu Bali adalah upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual untuk dapat membedakan antara kekuatan hidup yang berasal dari adharma dan mana budhi atma adalah suara kebenaran (dharma ). Ini juga memberikan kemampuan untuk membedakan orientasi raksasa (asura sampad) dan orientasi Tuhan (dewa sampad). Harus disadari bahwa hidup bahagia atau hidup emo memiliki kemampuan untuk menguasai orientasi raksasa.

Upacara Galungan Hindu Bali juga merupakan salah satu upacara agama Hindu untuk mengingatkan umat secara ritual dan spiritual agar selalu memenangkan Dewi Sampad untuk menegakkan dharma melawan adharma. Dalam lontar Sunarigama, Galungan dan detail upacara dijelaskan secara rinci. Mengenai arti lontar Sunarigama Galungan dijelaskan sebagai berikut:

Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning idep : Artinya: Rabu PON ( penanggalan Bali ) Dungulan nama Galungan, satu-satunya titik tinggi spiritual untuk mendapatkan pandangan yang jelas untuk menghilangkan kekacauan pikiran.
Dengan demikian, inti Galungan adalah menyatukan kekuatan spiritual untuk mendapatkan pikiran yang jernih dan kemapanan. Kesatuan spiritual dan pikiran yang cerah di sini dalam bentuk dharma. Sedangkan segala kekacauan pikiran (byaparaning idep) adalah bentuk adharma.

Konsep Upacara Hari Raya Galungan

Dari lontaran konsepsi diperoleh kesimpulan Sunarigama bahwa hakikat Galungan adalah merayakan kemenangan dharma melawan adharma. Untuk memenangkan dharma adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum dan sesudah Galungan :

  • Sebelum Galungan disebut Sugihan Jawa dan Sugihan Bali . Kata di sini mirip dengan Jawa di Jaba, artinya di luar.
    • Sugihan Jawa : Bermakna menyucikan Bauan Agung (bumi) di luar manusia. Sugihan Jawa dirayakan pada Wrhaspati Wage Wuku sungsang, enam hari sebelum Galungan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari itu adalah Sugihan Jawa Pasucian kalinggania semua dewa pamrastista (menguduskan Tuhan, karena itu adalah penyucian semua Tuhan). Pelaksanaan upacara ini adalah dengan membersihkan semua tempat dan perlengkapan upacara di masing-masing tempat pemujaan. Sedangkan pada hari Jumat Kliwon Wuku sungsang disebutkan: Kalinggania amretista raga tawulan (oleh karena itu menyucikan badan masing-masing).
    • Sugihan Bali : Disebut mensucikan diri. Kata Bali dalam bahasa Sansekerta berarti kekuatan yang ada di dalam. Dan itu dimurnikan.
  • Dalam Redite Paing Wuku Dungulan menceritakan Kala Tiga Wisesa kepada orang yang menyebalkan . Maka pada hari itu dianjurkan anyekung Jnana, artinya: membungkam pikiran untuk dimasuki oleh Butha Galungan. Dalam lontar juga disebutkan nirmalakena (yang pikirannya selalu murni) tidak akan dimasuki oleh Butha Galungan.
  • Pada hari Senin Pon Dungulan disebut Penyajaan Galungan . Pada hari ini orang-orang yang mengetahui tentang yoga dan pemujaan samadhi. Dalam lontar disebutkan, “Pangastawaning ngamong yoga samadhi.”
  • Pada hari tersebut disebutkan Anggara Wage wuku Dungulan Penampahan Galungan. Pada hari ini dianggap sebagai hari untuk mengalahkan Butha Galungan dengan upacara utama adalah membuat sesajen byakala yang disebut pamyakala lara melaradan. Sebagian besar masyarakat saat ini menyembelih hewan kurban sebagai hewan babi. Namun arti sebenarnya adalah harus membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri mereka. Demikian pula urutan upacara yang mendahului Galungan.
  • Setelah Galungan adalah Kamis Umanis wuku Dungulan disebut Manis Galungan . Pada hari ini orang-orang mengingat betapa indahnya kemenangan dharma. Orang-orang pada umumnya melambangkan kegembiraan mengunjungi tempat-tempat hiburan, terutama panorama yang indah. Juga saat mengunjungi kerabat.
  • Hari berikutnya adalah hari Sabtu Pon Dungulan yang disebut hari Guru Pemaridan . Pada hari ini, dilambangkan para dewa kembali ke surga dan meninggalkan hadiah berupa kadirghayusaan yaitu panjang umur sehat. Pada hari ini orang didorong untuk mengantarkan simbal ke meraka dan matirta gocara. Upacara Barmakna, masyarakat menikmati waranugraha Dewata.
  • Pada hari Jumat Wage disebut Penampahan Kuningan . Dalam lontar Sundarigama tidak disebutkan upacara harus berlangsung. Hanya dianjurkan kegiatan spiritual dalam lontar Sapuhakena malaning jnyana (menghancurkan kekotoran batin).
  • Keesokan harinya, Sabtu PON disebut Kuningan . Dalam lontar Sundarigama disebutkan, upacara sesaji yang dilaksanakan harus pada upacara pagi dan siang hari. Mengapa? Sejak tengah hari para dewa dan dewa Pitara “berpesan” kembali ke Swarga (dewa nut mwah maring Swarga).

CARA MEMESAN TUR BERSAMA KAMI

  • Silakan isi formulir Pertanyaan Wisata di bawah ini
  • Formulir Tur ini bukan konfirmasi akhir, kami perlu memeriksa ketersediaan tur yang Anda minta
  • Kami akan membalas sesegera mungkin setelah menerima Pertanyaan Tur Anda
  • Jika Formulir Tur tidak berfungsi, silakan kirim email langsung ke email ini: admin@arvitour.com
  • Atau kirimkan pesan kepada kami melalui whatsapp di nomor ini +6283115192999

# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.