Beranda » Travel Info » Bali Ogoh Ogoh Merupakan 1 Tradisi Yang Unik Di bali

Ogoh Ogoh Adalah Simbolasi Raksasa Dengan Penampilan Menakutkan Dan Gagas

Bali Ogoh-Ogoh sangat identik dengan Hari Raya Nyepi di Bali . Bisa dikatakan ogoh ogoh merupakan acara yang paling menarik di antara rangkaian Upacara Nyepi. Ogoh ogoh diarak pada malam Pengrupukan, yaitu sehari sebelum Tahun Baru Saka atau biasa disebut Hari Raya Nyepi. Ogoh-ogoh yang penampilannya sangat seram ini biasanya diarak keliling desa atau kota oleh masyarakat Banjar atau desa adat yang didominasi oleh para pemuda.

Ogoh ogoh adalah sejenis patung/boneka raksasa yang terbuat dari bahan ringan seperti kombinasi kayu, bambu, kertas, dan styrofoam sehingga mudah untuk diangkat dan diarak. Dengan perkembangan atau teknologi dan bahan, orang lebih memilih menggunakan styrofoam karena ringan dan mudah untuk diukir dan diproses, tetapi tentu saja harganya lebih mahal. Ogoh-ogoh dibuat dalam bentuk Bhuta Kala atau makhluk halus dan makhluk halus yang suka mengganggu kehidupan manusia. Bhuta Kala biasanya dilambangkan sebagai makhluk raksasa / Rakshasa dengan penampilan menakutkan dan ganas. Bhuta Kala adalah jenis makhluk jahat yang memiliki sifat buruk di dalamnya. Dalam mitologi Hindu dan Buddha, dikatakan bahwa kata “rakshasa” berarti “kekejaman”, yang merupakan kebalikan dari kata “raksha” yang berarti “ketenangan”. Dengan mengarak ogoh-ogoh dan pada akhirnya membakar atau menghancurkannya,

Selain berwujud Rakshasa, ogoh ogoh juga sering dilambangkan dalam bentuk lain seperti makhluk mitologi seperti Garuda, naga, dan sebagainya, serta bentuk Dewa dan Dewi seperti Dewa Siwa, Ganesha, atau Durgha. Saat ini, bahkan ada ogoh ogoh yang menggambarkan orang terkenal, selebriti, atau penjahat. Meski menghibur, sebenarnya hal ini sedikit melenceng dari konsep ogoh ogoh yang seharusnya menampilkan makhluk-makhluk jahat secara mitologis.

Namun, beberapa seniman yang menciptakan ogoh-ogoh semacam ini berpendapat bahwa sekarang orang juga telah dikuasai oleh roh jahat dan telah melakukan banyak hal buruk seperti teroris atau koruptor. Mereka berpikir bahwa sifat buruk itu juga harus dimusnahkan dan dijauhkan dari manusia.

Sejarah Ogoh ogoh

Nama ogoh ogoh diambil dari bahasa Bali “ ogah-ogah ” yang berarti sesuatu yang diguncang. Bahkan, ketika ogoh-ogoh diarak keliling selalu diguncang-guncang oleh para pengangkut ogoh-ogoh agar terlihat seperti bergerak atau menari. Selain itu pose ogoh-ogoh yang satu dengan ogoh-ogoh lainnya berbeda-beda dan bervariasi, sehingga masing-masing ogoh-ogoh akan memiliki gerakan yang berbeda ketika digoyang. Bahkan sekarang dengan berkembangnya teknologi, banyak ogoh-ogoh yang bisa digerakkan dengan bantuan mesin atau alat lainnya.

Ada begitu banyak versi sejarah ogoh ogoh di Bali. Sebagian orang berpendapat bahwa ogoh-ogoh sudah dikenal sejak zaman Dalem Balingkang (kerajaan Bali kuno). Saat itu, ogoh-ogoh digunakan dalam prosesi Pitra Yadnya atau biasa disebut Ngaben. Ada pula argumen lain yang menyatakan bahwa keberadaan ogoh-ogoh diilhami oleh tradisi Ngusaba Ndong-Nding dari Desa Selat, Karangasem yang juga menggunakan sosok serupa untuk mengusir roh jahat.

Pernyataan lainnya adalah bahwa Barong Landung-lah yang mengilhami penciptaan ogoh ogoh. Barong Landung adalah sejenis barong raksasa yang merupakan perwujudan dari seorang raja dan ratu purba yang menakutkan bernama Raden Datonta dan Sri Dewi Baduga. Namun, fakta yang paling pasti adalah bahwa ogoh-ogoh mulai diberi nama “ogoh-ogoh” sejak tahun 1980-an. Saat itu juga untuk pertama kalinya Nyepi masuk dalam daftar hari libur nasional. Kemudian, orang Bali mulai menciptakan sosok onggokan yang disebut ogoh-ogoh di beberapa bagian Denpasar. Setelah itu, budaya ini menyebar lebih luas ke seluruh Bali dan kemudian juga pertama kali terlibat dalam parade Pesta Kesenian Bali XII (Festival Seni Bali XII).

Festival ogoh ogoh

Biasanya sebelum malam Pengrupukan akan diadakan festival ogoh-ogoh di Taman Puputan Denpasar. Ogoh-ogoh yang bisa masuk ke ajang ini dipilih dari beberapa daerah di Denpasar. Acara ini diadakan untuk menghormati dan mengapresiasi kreasi ogoh-ogoh yang memiliki nilai seni dan tema yang tinggi. Ogoh ogoh yang diikutsertakan dalam festival ini tidak sembarangan diambil, karena sudah melalui proses seleksi. Ogoh-ogoh ini harus memiliki nilai seni, tema, dan hiburan yang tinggi.

Tema yang biasa digunakan adalah seputar cerita Wayang (Ramayana atau Mahabaratha) dari cerita Hindu lainnya. Selain itu, sesampainya di area Persimpangan Catur Muka Puputan, para lifter dan krunya harus menampilkan pertunjukan tari atau atraksi yang menceritakan kisah atau tema ogoh ogoh mereka di depan para juri.

Festival ogoh ogoh di Puputan biasanya diadakan beberapa jam sebelum Sandi Kala atau malam hari. Setelah festival usai, malam Pengrupukan dilanjutkan dengan parade ogoh ogoh dari desa-desa atau banjar di sekitar wilayah Denpasar. Di kabupaten lain selain Denpasar seperti Gianyar, Tabanan, atau Buleleng, festival ogoh ogoh juga diadakan secara berkala. Namun, terkadang festival tersebut tidak dilakukan di Pengrupukan, melainkan pada acara-acara tertentu seperti HUT Kota, dan sebagainya.

# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.